• 20/05/2025
  • Ruang Literasi Kaliurang

Pembicara Diskusi Publik: Andi Arief, Nining Wahyuningsih, Arie Sujito, M. Thoriq
Pameran: Yayak Yatmaka, Nining Wahyuningsih
Stand Up Comedy: Dodok Jogja, Teguh Nurwantara, Baharudin Baharsyah
Musik: Bayu Agni, Ria & Ramses

Pasca Gerakan Reformasi 1998, ditandai dengan berakhirnya rezim Orde Baru dan kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan Pemilihan Umum multipartai pada 1999, Indonesia telah bertransformasi dari negara otoritarian menjadi salah satu negara demokrasi paling dinamis di Asia. Setidaknya ada sejumlah penanda untuk mengatakan bahwa Indonesia sedang mengalami proses transisi tersebut, yaitu (1) mundurnya angkatan bersenjata dari politik, (2) liberalisasi sistem kepartaian, (3) Pemilihan Umum yang bebas dan kompetitif, (4) tumbuh dan maraknya media independen, (5) reformasi hukum dan peradilan, (6) perluasan ruang bagi masyarakat sipil, (7) program perluasan desentralisasi yang memindahkan kekuasaan politik kepada pemimpin lokal yang dipilih warga.

Namun, dua dekade kemudian, beberapa analis politik yang pernah memuji Indonesia sebagai mercusuar demokrasi mulai memberikan penilaian berbeda; demokrasi Indonesia sedang mengalami kemunduran (Aspinall dan Mietzner, 2019; Diprose dkk., 2019; Hadiz, 2017). Berbagai indikator memburuknya demokrasi bisa disaksikan, misalnya berkembangnya sikap intoleran, menguatnya sektarianisme, semakin lemahnya partai politik dan tidak berfungsinya lembaga perwakilan dengan baik, memburuknya kebebasan sipil, serta kekuasaan eksekutif yang semakin menggurita dan dominan sehingga membungkam suara kritis rakyat dengan cara-cara otoriter (Mietzner dkk., 2018; Warburton dan Aspinall, 2019; Aspinall dan Sukmajati, 2016; Muhtadi, 2019; Marta dkk., 2019; Mietzner, 2019; dan Power, 2018). Bahkan belakangan ini mulai muncul penanda yang sangat kuat; masuknya kembali tentara dan polisi dalam urusan-urusan sosial politik yang sejatinya menjadi wilayah sipil.

Di sisi lain, gerakan rakyat yang menjadi penopang utama gerakan Reformasi 1998 juga mengalami kemunduran. Para aktivis gerakan yang pada tahun-tahun sebelum reformasi memiliki stamina tinggi dan militansi keberpihakkan pada isu-isu demokratisasi dan kerakyatan, nampaknya mulai kesulitan untuk melanjutkan perannya. Bahkan dalam beberapa kasus para aktivis yang sebelumnya turut menyerukan demokratisasi justru turut menyumbang terjadinya regresi demokrasi itu sendiri.

Refleksi Reformasi ’98 dengan tema Yang [Belum] Selesai dari Reformasi ini secara umum bertujuan untuk membangun kesadaran historis lahirnya gerakan Reformasi 1998, sekaligus mengidentifikasi tantangan dan strategi untuk menahan laju regresi demokrasi yang terus terjadi. Karena itu, pertanyaan-pertanyaan umum yang akan menjadi pokok bahasan dalam kegiatan Refleksi Reformasi ’98 ini adalah sebagai berikut: Bagaimana akar dan konteks lahirnya gerakan Reformasi 1998?; Apa capaian dan kegagalan dari Reformasi 1998?; Apa penyebab terjadinya regresi demokrasi di Indonesia? Bagaimana peran partai politik dalam mendorong demokrasi yang kokoh dan berpihak pada rakyat? Bagaimana strategi membangun demokrasi yang berkeadilan sosial dan tidak elitis?; Dan bagaimana strategi konkrit untuk memperkuat institusi-institusi demokrasi serta partisipasi warga?

Share:

Leave a Comment:

Your email address will not be published. Required fields are marked *