• 21/03/2025
  • Pendopo Wahidin Ruang Literasi Kaliurang

Pembicara:
Kalis Mardiasih

Di era digital saat ini, media sosial memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk persepsi dan opini publik. Representasi perempuan dalam media sering kali menunjukkan ketimpangan, di mana perempuan lebih banyak ditempatkan dalam peran yang stereotipis, objektifikasi, atau bahkan dilemahkan posisinya. Dalam berita, film, iklan, maupun media sosial, misalnya perempuan masih sering digambarkan dalam kerangka domestik, dikaitkan dengan standar kecantikan yang sempit, atau dijadikan objek seksual. Representasi yang tidak seimbang ini memperkuat budaya patriarki dan memperlambat upaya kesetaraan gender.

Di sisi lain, perkembangan teknologi digital menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Media sosial dan platform digital memungkinkan perempuan untuk mendapatkan ruang bersuara dan membangun narasi alternatif yang lebih inklusif. Namun, kurangnya literasi digital di masyarakat sering kali membuat bias gender di media semakin mengakar. Misogini di dunia maya, penyebaran berita palsu yang merugikan perempuan, serta maraknya ujaran kebencian terhadap aktivis gender menunjukkan bahwa masyarakat masih perlu memiliki pemahaman kritis terhadap informasi yang mereka konsumsi dan sebarkan.

Literasi digital menjadi kunci dalam menghadapi permasalahan ini. Dengan pemahaman yang baik tentang bagaimana media bekerja, siapa yang mengendalikan narasi, serta bagaimana cara mengidentifikasi bias dan hoaks, masyarakat dapat lebih berdaya dalam memilih dan memproduksi konten yang adil terhadap perempuan. Oleh karena itu, diperlukan diskusi yang membahas bagaimana media merepresentasikan perempuan, bagaimana masyarakat dapat lebih kritis terhadap konsumsi informasi, serta bagaimana semua pihak dapat berperan dalam mendorong narasi yang lebih setara dan inklusif di ruang digital.

Diskusi ini secara umum bertujuan untuk membangun kesadaran akan pentingnya literasi digital dalam menangkal bias gender di media, mengidentifikasi tantangan serta strategi yang bisa diterapkan untuk menciptakan representasi perempuan yang lebih berkeadilan, dan mendorong kolaborasi antara berbagai pihak dalam menciptakan ekosistem media yang lebih sehat bagi perempuan dan masyarakat luas.

Share:

Leave a Comment:

Your email address will not be published. Required fields are marked *